“PENGARUH
TAYANGAN TELEVISI TERHADAP KEPRIBADIAN ANAK DAN SOSIAL MASYARAKAT”
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Komunikasi
merupakan kebutuhan dasar manusia. Dalam proses komunikasi terdapat pertukaran
informasi. Media massa yang dianggap paling mempengaruhi khalayaknya dalam hal
penyampaian informasi adalah televisi. Kehadiran televisi dalam kehidupan
manusia memunculkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan
penyebaran informasi yang bersifat massal dan menghasilkan suatu efek sosial
yang berpengaruh terhadap nilai-nilai sosial dan budaya manusia. Kemampuan
televisi dalam menarik perhatian massa menunjukkan bahwa media tersebut telah
menguasai jarak secara geografis dan sosiologis
Televisi secara harfiah berasal dari
bahasa Yunani yaitu “tele” yang berarti
jauh dan “visio” yang berarti penglihatan. Sehingga televisi dapat diartikan
sebagai telekomunikasi yang dapat dilihat dari jarak jauh. Televisi merupakan
media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi kepada khalayak yang
tak terhingga dalam waktu yang bersamaan. Hampir 90% penduduk di negara-negara berkembang mengenal dan memanfaatkan
televisi sebagai sarana hiburan, informasi, edukasi dan lain sebagainya.
Televisi tidak membatasi diri hanya untuk konsumsi kalangan tertentu saja namun
telah menjangkau konsumen dari semua kalangan masyarakat.
Tayangan televisi seperti reality show, infotainment, sinetron, film bahkan
iklan sekalipun turut serta mengatur dan mengubah life style di masyarakat.
Informasi yang diberikan televisi seperti program berita tentang politik,
budaya, ekonomi maupun sosial masyarakat dari suatu negara layaknya hanya
hiburan dan permainan publik belaka. Televisi saat ini seakan menjadi guru
elektronik yang mengatur dan mengarahkan serta menciptakan budaya massa baru
yang dapat mempengaruhi aspek sosial pada masyarakat.
Tayangan televisi yang bervariasi tersebut sangat menarik perhatian
pemirsa, terutama anak-anak. Pada beberapa penielitian menunjukkan bahwa
anak-anak menonton televisi rata-rata 5-8 jam per hari. Bahkan pada kasus yang
ekstrim, anak dapat menonton televisi hingga 16 jam perhari. Dari total
penonton televisi, 21% adalah anak usia 5-14 tahun.Jumlah anak yang menonton
pada pagi hari (06.00-10.00) dan siang-malam hari (12.00-21.00) lebih banyak
dari kelompok umur lainnya. Pada penelitian lain disebutkan bahwa kekerasan
fisik dan psikologis dapat ditemukan dalam sebagian besar program kartun,
dimana program tersebut sangat identik dengan anak-anak. Oleh karena itu, bukan
tidak mungkiin jika tayangan televisi yang ada dapat mempengaruhi kepribadian
anak-anak.
1.2. Rumusan Masalah
Semakin banyaknya serta semakin
seringnya tayangan televisi sangat memungkinkan masyarakat merasakan banyak
pengaruh dari adanya tayangan tersebut. Sesuai dengan latar belakang tersebut,
penulis tertarik untuk membahas permasalahan mengenai rumusan masalah sebagai
berikut :
1.
Apa sajakah pengaruh tayangan televisi
terhadap kehidupan sosial masyarakat ?
2.
Apa sajakah pengaruh tayangan televisi
terhadap kepribadian anak?
1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
:
1.
Mengetahui pengaruh tayangan televisi terhadap
kehidupan sosial masyarakat
2.
Mengetaui pengaruh tanyangan televisi terhadap
kepribadian anak.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengantar
Televisi merupakan jaringan komunikasi dengan peran seperti komunikasi
massa yaitu satu arah, menimbulkan keserempakan dan komunikan bersifat
heterogen.Komunikasi massa dengan media televisi merupakan proses komunikasi
antara komunikator dengan komunikan (massa) melalui sebuah sarana yaitu
televisi. Beberapa karaketeristik media televisi adalah sebagai berikut :
1.
Memiliki
jangkauan yang luas dan segera dapat menyentuh rangsang penglihatan dan
pendengaran manusia
2.
Dapat
menghadirkan objek
3.
Menyajikan
pengalaman langsung kepada penonton
4.
Dapat
dikatakan menghilangkan perbedaan jarak dan waktu
5.
Mampu
menyajikan unsur warna, gerakan, bunyi dan proses dengan baik.
6.
Dapat
menggabungkan pemanfaatan berbagai media lain seperti film, foto, dan gambar.
7.
Dapat
menyimpan berbagai data, informasi dan serentak menyebarluaskan dengan cepat ke
berbagai tempat yang berjauhan
8.
Mudah ditonton
tanpa perlu menggelapkan ruangan
9.
Membangkitkan
perasaan itim atau media personal.
Program siaran
televisi di Indonesia pada umumnya diproduksi oleh stasiun televisi yang
bersangkutan. Stasiun televisi dapat memilih program yang menarik dan memiliki
nilai jual kepada pemasang iklan, sementara perusahaan produksi acara televisi
dapat meraih keuntungan dari produksinya. Pada umumnya isi program siaran di
televisi meliputi acara seperti berita, dialog interaktif, program pedesaan,
periklanan, kesenian dan budaya, film, sinetron, pendidikan, kuis, komedi, dan
lain-lain.
Berbagai jenis
program siaran tersebut tidak mutlak harus ada semuanya. Acara-acara tersebut
sangat bergantung dari kepentingan masing-masing stasiun penyiaran televisi
yang bersangkutan. Namun berita selalu menjadi program utama di setiap stasiun
televisi. Berita termasuk program siaran yang senantiasa diminati oleh
masyarakat karena mengandung berbagai informasi yang aktual dan faktual, baik
dalam cakupan nasional, regional maupun internasional.
Menurut undang-undang
penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 4, bahwa penyiaran bertujuan untuk
menumbuhkan dan mengembangkan sikap mental masyarakat Indonesia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memperkokoh persatuan dan kesatuan
bangsa, dan membangun masyarakat adil dan makmur. Pada dasarnya televisi
sebagai alat atau media massa elektronik yang dipergunakan oleh pemilik atau
pemanfaat untuk memperoleh sejumlah informasi, hiburan, pendidikan dan
sebagainya. Sesuai dengan Undang-Undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II
pasal 5 berbunyi “Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan
penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideology, politik, ekonomi,
sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.
Televisi sebagai media masa dalam komunikasi masa tidak terlepas dari
dampak yang terjadi di masyarakat. Pengaruh yang timbul dari televisi disebut
sebagai efek komunikasi masa. Menurut Donald K Robert, fokus komunikan berada
pada pesan yang dibawa sehingga efek perubahan perilaku terjadi setelah merekam
pesan dari media masa. Berbeda dengan McLuhan, media masa itu sendiri merupakan
pesan jadi yang mempengaruhi komunikan sehingga perubahan terjadi pada
medianya. Sedangkan menurut Steven H.
Caffe, terdapat lima poin pada efek tersebut yaitu efek ekonomis, efek sosial,
efek pada panjadwalan kegiatan, efek pada penyaluran penghilangan perasaan
tertentu dan efek perasaan orang terhadap media.
Sebagai media komunikasi massa televisi memiliki tiga fungsi pokok yaitu
fungsi informasi, fungsi pendidikandan fungsi hiburan.
1.
Fungsi Informasi
Fungsi televisi sebagai sarana informasi berarti bahwa penyampaian
informasi dengan media televisi dapat memuaskan pemirsa jika dibanding dengan
media lain dikarenakan penyampaiannya yang tidak hanya dalam bentuk siaran
pandang mata akan tetapi juga dilengkapi dengan gambar faktual ceramah, diskusi
dan komentar. Televisi
dapat mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya
media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang
lebih baik tentang apa yang terjadi di daerah lain. Dengan menonton televisi
akan menambahkan wawasan.
2.
Fungsi
pendidikan
Fungsi pendidikan pada televisi berarti bahwa televisi merupakan sarana
yang ampuh sebagai media pendidikan karena penyampaiannya secara simultan dan
teratur. Dengan demikian, sesuai dengan makna pendidikan, pengetahuan dan
penalaran masyarakat akan meningkat.
3.
Fungsi hiburan
Fungsi hiburan pada televisi berarti memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya,
karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburanprogram. Program televisi yang variatif
memiliki magnet bagi setiap orang untuk menononnyan sehingga menyebabkan
pemirsa melupakan kepenatan dan kegiatannya.
Menurut Prof. Dr. R. Mar’at, acara televisi pada umumnya mempengaruhi
sikap,pandangan, persepsi dan perasaan bagi para penontonnya. Hal ini
disebabkan oleh pengaruh psikologis dari televisi itu sendri, di mana televisi
seakan-akan menghipnotis penonton, sehingga mereka terhanyut dalam keterlibatan
akan kisah atau peristiwa yang disajikan. Terdapat sejumlah karakteristik
khusus dalam program acara yaitu :
1.
Televisi
menghasilkan suara, gerakan, visi dan warna
2.
Pembuatan
program televisi lebih lama dan mahal
3.
Visual dibuat
semenarik mungkin.
Program televisi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu
program informasi dan program hiburan. Program informasi adalah sebagai bentuk
siaran yang memberikan informasi penting yang disiarkan dan bersifat mudah basi
sehingga perlu disiarkan secepatnya. Sedangkan program hiburan adalah siaran
yang memiliki tujuan untuk menghibur pemirsa melalui berbagai bentuk dan tidak
semua harus disiarkan secara langsung. Program televisi terdiri dari :
1.
Berita
nasional, seperti siaran berita yang dihasilkan oleh stasiun televisi swasta
lokal
2.
Liputan khusus
yang membahas tentang berbagai masalah aktual secara lebih mendalam
3.
Program
olahraga
4.
Program dengan
topik khusus yang bersifat informatif seperti acara memasak, berkebun dan acara
kuis
5.
Acara drama,
seperti sinetron, sandiwara dan film.
6.
Acara musik
7.
Acara
anak-anak seperti film kartun
8.
Acara
keagamaan seperti siraman rohani, acara ramadhan, acara hari besar keagamaan.
9.
Acara yang
membahas tentang ilmu pengetahuan dan pendidikan
10. Talkshow.
2.2. Peran Media
Televisi Sebagai Agen Sosialisai dalam Mempengaruhi Masyarakat
Istilah sosialisasi mempunyai
cakupan yang sangat luas, sangat beragam, dan mencakupi banyak dimensi dari
interaksi social dalam lingkungan social. Pada perspektif individual,
sosialisasi akan membekali individu dengan kemampuan untuk berkomunikasi,
berpikir untuk memecahkan masalah dengan cara yang diterima oleh masyarakat
dengan cara yang menyeluruh untuk member kemudahan kepada individu untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Satu hal yang perlu diingat bahwa
sosialisasi tidak pernah berakhir dan merupakan proses yang terus menerus
berlangsung, bergerak sejak masa kanak-kanak sampai usia tua seseorang.
Media massa terutama televisi
adalah merupakan agen sosialisasi yang lebih penting daripada agen sosialisasi
tradisional, seperti gereja, keluarga, teman-teman, dan guru di sekolah. Selain
itu, media massa menjadi sumber informasi dan sumber pendapat pribadi tentang
peristiwa actual yang penting dibandingkan dengan sumber lain. Hal terpenting
dari dari proses sosialisasi yang dilakukan oleh media massa khususnya
televisi, bahwa individu mengambil nilai yang sesuai dengannya.
Pada
table dibawah ini dapat dilihat bahwa penggunaan media massa pada masyarakat
Indonesia sangat tinggi dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun
terutama sekali penggunaan televisi.
Penggunaan
Media Massa Di Indonesia tahun 1997, 2000, dan 2003
|
Tahun
|
Mendengarkan Radio (%)
|
Menonton TV
|
Membaca Surat Kabar
|
|
1997
|
47,4
|
76,9
|
15,5
|
|
2000
|
43,2
|
78,9
|
19,8
|
|
2003
|
50,3
|
84,9
|
22,1
|
Sumber : BPS, Susenas Modul, 1997,2000, dan 2003
Dari
tabel diatas dapat terlihat bahwa penonton televisi semakin lama semakin besar.
Hal tersebut memungkinkan membuka peluang besar bagi media televisi sebagai
media terkuat dalam mempengaruhi masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh
Halloran, televisi memperngaruhi dalam berbagai bentuk seperti televisi dapat berfungsi sebagai
seorang guru yang mengajarkan tingkah laku dalam berbagai bentuk dan keadaan,
sebagai model, sebagai pemberi informasi, sebagai ilmu pengetahuan, sebagai
pemberi semangat dan ide, sebagai penunjuk pada budaya yang popular, sebagai
agen sosialisasi, dan banyak lagi fungsi lainnya.
2.3. Dampak Positif
dan Dampak Negatif Televisi
Televisi dapat menjadi hal yang bermanfaat jika
berfungsi sebagai media komunikasi informasi, budaya dan pendidikan. Namun
televis akan menjadi sesuatu yang kontroversional ketika pada kepentingan
bisnis yang berpengaruh buruk bagi masyarakat. Indonesia sebagai negara yang
berkembang, mempunyai arus komunikasi yang seakan tak terbatas keluar masuk ke
dan dari masyarakat. Pengaruh negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika juga
turut serta di dalamnya. Oleh karena itu, televisi dapat memberikan dapat positf
dan negatif bagi pemirsanya.
Dampak positif dengan adanya televisi antara lain :
1.
Kecepatan dan
keakuratan dalam menyajikan berita, melebihi media massa lainnya.
2.
Mampu
menyuguhkan beragam tayangan hiburan, yang dapat menghilangkan stres.
3.
Dapat menambah
wawasan
4.
Dapat memicu
motivasi dan menumbuhkan inspirasi dengan tayangan yang inspiratif dari
tokoh-tokoh yang berpengaruh
5.
Meningkatkan
kosa kata
6.
Menciptakan
momen kebersamaan antar keluarga.
Disamping dampak positif, televisi juga memiliki
dampak negatif seperti :
1.
Dapat merusak
mentl sekaligus pola pikir anak-anak dengan tanyangan yang tidak mendidik
seperti tayangan kekerasan
2.
Mengajarkan
budaya komersil atau konsumerisme dalam diri anak
3.
Memberi dampak
yang negatif untuk kesehatan badan, seperti obsesitas dan penurunan fungsi
penglihatan
4.
Menghadirkan
dunia yang maya dan menjadikan anak tidak kreatif
5.
Menumbuhkan
rasa malas untuk mengerjakan kegiatan lain selain menonton televisi.
2.3. Pengaruh
Televisi Terhadap Kesehatan Sosial Masyarakat
Riset yang dilakukan di banyak negara mengatakan
terapat pengaruh buruk televisi terhadap
kesehatan sosial masyarakat. Tayangan televisi yang semakin berani hadir 24 jam
non stop dapat dipastikan bahwa pesan yang dibawa oleh televisi baik positif
maupun negatif terserap lebih dari setengahnya oleh masyarakat. Sebagai upaya
untuk menarik perhatian penonton, para insan pertelevian membuat
program-program ringan yang mencerminkan kehidupan masyarakat. Bahkan terkadang
pembuatan program-program tersebut mengesampingkan segala peraturan dan kode
etik penyiaran. Oleh karena dikesampingkannya segala batasan tersebut, muncul
pengaruh-pengaruh buruk televisi terhadap kesehatan sosial masyarakat. Beberapa
pengaruh buruk tersebut antara lain :
1.
Televisi
merusak moral dan budaya masyarakat
Beberapa waktu terakhir pertelevisian Indonesia sedang gencar-gencarnya
menayangkan sinetron, film maupun mini drama yang menceritakan kehidupan
percintaan dan perebutan harta. Jika program tersebut ditayangkan dan
disaksikan terus menerus boleh jadi secara tidak langsung mempengaruhi
pemikiran masyarakat mengenai hal-hal negatif yang ada pada tayangan tersebut
dan menjauhkan mereka dari tugasnya .
Selain mempengaruhi masayrakat dalam bersikap, tayangan televisi juga
membentuk budaya malas. Banyak orang yang rela duduk berjam-jam lamanya hanya
karena menonton tayangan favoritnya. Terlalu sering menonton televisi
menyebabkan kinektisitas berkurang sehingga berakibat pada kegemukan. Selain
itu kualitas kerja juga menurun.
Pengaruh lainnya terjadi dikarenakan arus globalisasi dan westernesasi yang
masuk dengan sangat cepat melalui televisi. Budaya barat yang identik dengan
kebebasan dalam segala hal dapat mempengaruhi pemikiran masayrakat Indonesia.
Banyak budaya ketimuran yang sopan mulai tergeser. Seni-seni tradisional bangsa
sudah tidak berkibar lagi di seluruh negeri diganti dengan seni-seni barat yang
terkesan bebas, erotis dan realis sekali.
2.
Televisi
menyita banyak waktu yang berharga
Kemajuan teknologi,
peningkatan tingkat ekonomi dan perkembangan tayangan televisi yang semakin
maju memungkinkan menyebabkan pemirsa merasa semakin dimanjakan. Program
unggulan yang ditayangkan selama berjam-jam dan secara estafet menyebabkan
pemirsa semakin betah berada di depan televisi. Banyak sekali waktu berharga
yang terbuang oleh karena itu. Baik waktu yang dapat dipergunakan untuk
bekerja, beraktivitas bahkan waktu untuk beribadah.
3.
Televisi
merusak perkembangan otak manusia
Semakin variatif program acara yang dibuat , meskipun telah dipisahkan
menurut segmenya tetep saja tayangan tersebut masih dapat dinikmati banyak
kalangan umur. Tayangan yang ditonton oleh pemirsa yang tidak sesuai untuk
kelompok umurnya dapat membentuk pemikiran dan sikap yang salah. Seperti pada
pertengahan tahun 2007 kemarin, sebuah tanyangan kekerasan orang dewasa yaitu
Smack Down tayang di salah satu televisi swasta nasional Indonesia dan
mengakibatkan anak-anak terpengaruh. Merekapun mempraktekkannya sesama teman,
beradu otot sampai-sampai memakan korban jiwa.
Namun selain memberikan pengaruh buruk kepada sosial masyarakat, televisi
juga memberikan pengaruh positif. Bila kembali ke fungsi utama televisi sebagai
media informasi dan komunikasi, televisi dapat menghibur, mendidik dan
mengarahkan pemerisa ke arah yang baik. Beberapa pengaruh positif dari televisi
yaitu :
1.
Televisi
sebagai penghibur masyarakat
Sejatinya, televisi merupakan salah satu media massa yang berfungsi sebagai
penghibur. Kehadiran program-program televisi yang menghibur sangat diperlukan
untuk melepas stress. Bagi masyarakat Indonesia sendiri arti kebersamaan sangat penting. Dengan
adanya televisi, kebersamaan itu bisa diwujudkan dengan menonton program
hiburan televisi yang ‘sehat’ secara bersama. Mereka bisa tertawa bersama,
bercanda bersama mengomentari apa yang ada dalam tayangan dan ini sangat baik
untuk kesehatan sosial masyarakat Indonesia.
2.
Televisi
sebagai media informasi, pengetahuan dan pendidikan
Televisi sebagai media massa juga memiliki fungsi sebagai media penyampai
informasi. Program televisi seperti news, infotainment, bahkan talk show mampu
memberikan informasi yang sekiranya diperlukan oleh pemirsa televisi. Indonesia
sebagai Negara yang sedang berkembang, informasi dari berbagai belahan dunia
sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita. secara tidak langsung informasi itu
dapat meningkatkan intelektual masyarakat sehingga mampu meningkatkan potensi
sumber daya manusia Indonesia itu sendiri. Dengan hadirnya televisi dunia seakan
semakin sempit. Berbagai berita criminal, politik, sosial dan budaya dari dalam
maupun luar negeri bisa sampai ke masyarakat dengan mudah. Informasi tersebut
bahkan bisa disaksikan langsung oleh pemirsa.
Selain memberi informasi, televisi juga bisa bermanfaat sebagai sarana
edukasi bagi pemirsa khususnya para pelajar dan anak-anak yang sedang dalam
tahap perkembangan. Acara kuis, program bimbingan rohani, talk show pendidikan
atau bidang pengetahuan lain sangat berguna bagi masyarakat kita. bagi sebagian
orang yang memiliki pola belajar audio visual, menonton televisi bisa dijadikan
sebagai alternatif pembelajaran
3.
Televisi
sebagai media aksi sosial masyarakat.
Berbagai macam informasi yang disampaikan televisi melalui program-program
acaranya tentu terdapat pula mengenai berita sosial. Keadaan sosial dari
seluruh Indonesia dapat diketahui pemirsa di rumah. Kemiskinan, kelaparan
penderitaan saudara-saudara kita di televisi seakan bisa kita rasakan walau
posisi kita secara nyata berjauhan. Ini membuktikan bahwa televisi juga bisa
berguna untuk menggugah kesadaran sosial masyarakat
2.4. Pengaruh
Televisi Terhadap Kepribadian Anak
Fungsi utama televisi adalah untuk menghibur dan memberikan
informasi, tetapi tidak berarti fungsi mendidik dan membujuk dapat diabaikan.
Fungsi non hiburan dan non informasi harus tetap ada karena sama pentingnya
bagi keperluan kedua pihak, komunikator dan komunikan.
Menurut John Lock, anak merupakan pribadi yang masih bersih dan peka
terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Berdasarkan
beberapa pendapat mengenai pengertian dari anak, maka dapat diberikan
kesimpulan bahwa anak adalah seseorang yang belum dewasa atau belum mengalami
pubertas dimana kepribadian orang itu masih peka terhadap rangsangan dari lingkungan
sekitarnya dan peranan bantuan dari orang tua lebih dominan.
Sedangkan, kepribadian menurut beberapa ahli adalah adalah keseluruhan cara di mana
seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian merupakan susunan sistem-sistem psikofisik dalam diri individu
yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem
psikofisik yang dimaksud meliputi kebiasaan, sikap, tata nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan
dan motif yang bersifat psikologis.
Pengaruh positif
televisi adalah televisi dapat menyediakan program pendidikan untuk anak
usia sekolah, menambah kreativitas dan pengetahuan anak namun disisi lain
televisi juga memiliki pengaruh negatif terhadap aktivitas fisik seperti
perilaku merokok, perilaku agresif, tingkah laku, pengguna alkohol dan obat
terlarang, hubungan seksual bebas, pola makan yang salah, obesitas, serta
penurunan prestasi akademik terutama apabila ada televisi di kamar anak.
Menonton televisi dapat menurunkan prestasi akademik anak usia sekolah. Hal ini
disebabkan karena:
1. Mengurangi semangat belajar
karena bahasa televisi yang sederhana dan memikat
2. Menonton televisi menyebabkan
berkurangnya waktu untuk membaca dan mengikuti kegiatan di sekolah.
3. Lama menonton televisi juga
sangat menentukan, dimana biasanya anak menghabiskan waktu 3 sampai 5 jam
sehari untuk menonton televisi.
4. Beberapa penelitian
menyatakan ada hubungan antara rendahnya minat baca dan kemampuan membaca
terhadap pertambahan waktu menonton televisi, terutama pada anak laki-laki.
Namun hal ini tidak bermakna pada anak yang mempunyai IQ yang lebih
tinggi dari normal. Namun pada anak penggemar berat televisi
(menonton televisi lebih dari 5 jam sehari).
5. Meskipun memiliki IQ normal
ataupun lebih tinggi tetap saja dijumpai kemampuan membaca yang lebih
jelek. Penelitian lain pada anak sekolah menengah juga dijumpai prestasi
akademik jelek yang berhubungan dengan bertambahnya waktu menonton televisi.
6. Menonton televisi juga
mempengaruhi kebiasaan belajar anak dan tingkah laku di sekolah. Film kartun
seperti sesame street menyebabkan perhatian anak di kelas berkurang terhadap
pelajaran terutama perhatian pada gurunya.
Selain dampak negatif yang muncul akibat terlalu lama menonton televisi,
permasalahan lain yaitu ketika anak menonton kartun bisu. Karena kepribadian
anak merupakan suatu sistem psikofisik, ketika karakter atau tokoh atau
tayangan bisu yang memiliki sifat dan kebisaan tertentu di tonton
berulang-ulang maka perlikau tersebut dapat ditiru oleh anak. Maka dampak paling
nyata (observable) film kartun bisu terhadap kepribadian anak adalah perilaku
enggan berbicara pada anak.
Perlu diketahui
oleh para orang tua adalah masa perkembangan kognisi anak. Usia 1-5 tahun
merupakan stadium pra-operasional perkembangan kognisi anak atau masa emas
dalam membentuk kecerdasan anak. Stadium ini merupakan saat pertama anak
menguasai bahasa yang sistematis, mengenal arti simbolis dan perilaku imitasi
awal yang membentuk mental anak. Sehingga pada usia ini, anak memerlukan
pengembangan kemampuan berbahasa dan penggunaan kata-kata yang benar serta
mengekspresikan kalimat-kalimat pendek namun efektif. Selain itu anak pada usia
ini mulai mengembangkan sikap differred-imitation sehingga mudah sekali meniru
perilaku/karakter yang dilihatnya. Social learning theory menjelaskan bahwa
perilaku individu merupakan hasil dari proses belajar dariperilaku individu
lain, maka perilaku seorang individu (anak) merupakan imitasi dari perilaku
individu lain (karakter/tokoh kartun) yang dilihatnya.
Terlalu seringnya
menonton tayangan dengan karakter agresif juga memiliki dampak negatif bagi
anak karena dapat memicu perilaku agresif anak. Agresivitas merupakan suatu niat atau aktivitas yang dapat menyakiti diri
sendiri atau orang lain, berupa aktivitas fisik maupun verbal. Sikap
agresif anak tercermin dari perilaku yang bertentangan dengan orang lain atau
melawan orangtua, perilaku mendorong atau memukul, menuntut/mencoba memaksa untuk
memiliki benda-benda yang bukan miliknya. Perilaku inilah yang menjadi
indikator bahwa proses pertumbuhan pra-operasional kognitif sedang bermasalah.
Tontonan
kekerasan yang disajikan pada sebuah televisi akan berpengaruh sekali terhadap
perilaku anak, karena secara tidak langsung anak itu dapat meniru tayangan
kekerasan di televisi, di kemudian hari, dan biasanya diperagakan pada
teman-temannya. Karena fase anak-anak memang fase meniru, dan tak heran bila
anak-anak sering disebut imitator ulung. Kekerasan yang ditayangkan di TV tak
hanya muncul dalam film kartun, film lepas, serial dan sinetron. Adegan
kekerasan juga tampak pada hampir semua berita, khususnya berita kriminal.
Menurut Ron
Solby, terdapat empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap
perkembangan kepribadian anak, yaitu
1. Dampak agresor di mana sifat
jahat dari anak semakin meningkat;
2. Dampak korban di mana anak
menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain;
3. Dampak pemerhati, di sini
anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain;
4. Dampak nafsu dengan
meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam
mengatasi setiap persoalan.
Acara di televisi juga dapat mempengaruhi kecerdasan moral seorang anak.
Misalkan ketika melihat suatu adegan dalam sebuah sinetron. Anak melihat pemain
sinetron berperilaku kasar terhadap lawan bermainnya seperti memukul atau
mencaci maki dengan orang yang lebih tua. Ataupun sebaliknya, pemain sinetron
berperilaku baik seperti saling membantu terhadap sesama manusia, peduli
terhadap orang yang tidak mampu, maupun bertutur kata yang baik terhadap orang
yang lebih tua. Di sinilah kontrol diri seorang anak akan teruji, apakah
ia akan membuat keputusan untuk mengikuti perilaku yang dilakukan pemain tersebut
atau tidak.
Hal Yang
menarik, terdapat hubungan nyata antara kebiasaan menonton TV dengan tingkatan
pengawasan orang tua. Pengawasan itu berupa pengenalan orang tua akan
teman-teman sang anak di mana mereka berada sepanjang hari. Selain itu, apakah
orang tua juga menetapkan dan menjalankan peraturan pembatasan waktu bermain di
luar rumah atau nonton TV. Anak yang tidak diawasi dengan ketat akan menonton
TV lebih banyak dibandingkan anak-anak yang lain. Tapi tidak semua setuju
dengan pendapat bahwa tayangan pada televisi berakibat langsung pada perilaku
anak. Satu kajian oleh para ahli ilmu jiwa Inggris menyebutkan, tak ada kaitan
langsung antara tayangan di TV dengan perilaku anak. Namun ada syarat yang
dipenuhi. “Tak ada yang lebih baik daripada keluarga yang hangat, sekolah yang
bermutu, dan masyarakat yang peduli. Kalau ketiga aspek itu terpenuhi, tak ada
masalah dengan tayangan yang ditonton.”
2.5. Alasan
Tayangan Berita Berpengaruh Terhadap Perilaku
Ada beragam pilihan program tayangan televisi yang dapat dinikmati oleh
pemirsa seperti berita,
dialog interaktif, program pedesaan, periklanan, kesenian dan budaya, film,
sinetron, pendidikan, kuis, komedi, dan lain-lain. Berbagai program tersebut
memiliki karakteristik serta unsur tayangan yang berbeda sesuai dengan tujuan
dari penayangan program.
Seperti yang disebutkan oleh Teori
pengaruh media satu langkah bahwa pesan masuk hanya dalam satu langkah
yaitu dari televisi ke pemirsa. Sebagai akibatnya, pemirsa mengubah pemikiran
dan perilaku mereka sesuai dengan apa yang ditayangkan oleh televisi. Begitu
pula dengan anak-anak dan para remaja yang menyaksikan tayangan berita di
televisi.
Pada saat
tayangan yang mengandung unsur pornografis disiarkan di televisi, anak-anak dan
remaja merasa tertarik dengan tayangan tersebut. Alasannya karena tayangan
tersebut menunjukkan sifat sensualitas yang dapat mengakibatkan mereka
melakukan pergaulan yang menyimpang. Ketika tayangan kekerasan disiarkan di televisi,
anak-anak dan remaja yang pola pikirnya masih labil dan emosional cenderung
untuk melakukan perilaku yang kasar dan tidak sopan baik kepada teman, guru,
bahkan orangtua mereka sekalipun.
2.6. Solusi Mengurangi
Dampak Negatif Televisi Bagi Anak
Manusia
memanfaatkan televisi sebagai alat bantu yang paling efektif dan efisien.
Informasi yang diinginkan oleh banyak orang hampir semuanya dapat diperoleh
dari berbagai program dan tayangan berita di televisi yang dapat
dipertanggungjawabkan secara moral dan material. Kegiatan menonton berita di
televisi sering tidak terencana dan bersifat tidak sadar. Apabila orangtua dari
si anak dan remaja sedang menonton televisi, mereka juga turut serta
menontonnya. Televisi dapat dengan mudah melahap sebagian besar waktu sang anak
yaitu waktu untuk belajar, membaca, menggambar atau membantu pekerjaan rumah
tangga.
Peranan ayah dan ibu dalam pendidikan keluarga sebagai dasar pembentukan
kepribadian anak sangat menentukan bagi perkembangan kepribadian anak. Orang
tua memiliki peranan yang sangat penting karena karakter dan kepribadian anak
diperngaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Setiap orang tua mempunyai tanggung
jawab untuk selalu mengawasi anaknya dan memperhatikan perkembangannnya. Oleh
sebab itu hal-hal sekecil apapun harus bisa diantisipasi oleh setiap orang tua
mengenai dampak positif dan negatif yang akan ditimbulkan.
Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mengurangi dampak negatif
televesi bagi anak
1.
Memilih acara
yang sesuai dengan usia anak
2.
Jangan
membiarkan anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya.
3.
Mendampingi
anak menonton TV sehingga acara yang televisi yang ditonton selalu terkontrol
4.
Memanfaatkan
waktu selama menonton televisi tersebut sekaligus sebagai sarana belajar anak.
5.
Duduk bersama
dengan anak dan mendiskusikan isi tayangan.
6.
Menyiapkan
kegiatan alternatif pengganti agar anak tidak kembali menonton televisi
7.
Mengajak anak
keluar rumah untuk menikmati alam dan lingkungan serta bersosialisasi dengan
orang lain
8.
Mengajak anak
mengenal lingkungan sekitar
9.
Meletakkan
buku-buku ditempat yang terjangkau oleh anak sehingga dapat mengajak anak untuk
memperbanyak membaca buku.
10. Memperbanyak mendengarkan radio. Memutar kaset atau mendengarkan musik
sebagai pengganti menonton televisi.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
·
Televisi
merupakan jaringan komunikasi dengan peran seperti komunikasi massa yaitu satu
arah, menimbulkan keserempakan dan komunikan bersifat heterogen.
·
Sebagai media
komunikasi massa televisi memiliki tiga fungsi pokok yaitu fungsi informasi,
fungsi pendidikandan fungsi hiburan
·
Acara televisi
pada umumnya mempengaruhi sikap,pandangan, persepsi dan perasaan bagi para
penontonnya
·
Media masa televisi merupakan agen
sosialisasi penting dalam mempengaruhi masyarakat dimana penonton
televisi semakin lama semakin besar. Sehingga memungkinkan membuka peluang
besar bagi media televisi sebagai media terkuat dalam mempengaruhi masyarakat
·
Pengaruh
negatif televisi terhadap sosial masyarakat berupa merusak moral, sikap dan
pemikiran masyarakat dalam bertinda; merusak perkembangan otak dan membuang
waktu.
·
Pengaruh negatif televisi terhadap
kepribadian anak yaitu mengurangi semangat belajar, hilangnya minat baca,
meningkatkan sifat agresif dan perilaku kekerasan.
·
Peran orang tua sangat berpengaruh
dalam meminimalkan pengaruh negatif dari tayangan televisi.
3.2. Saran
·
Tentukan dan bedakan waktu menonton televisi bagi anak-anak,
remaja, dan yang sudah dewasa.
·
Alihkan perhatian dan kegemaran anak serta remaja dalam
keluarga dari kecanduan menyaksikan acara televisi yang ditayangkan setiap hari
kepada bentuk-bentuk kegiatan dan kesenangan baru yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Aqsha, nur. 2009. Makalah
Televisi. nuuraqsho.blogspot.co.id. diaskes pada 21 Maret 2016 pukul 19.00
Arief. 2012. Meida
Televisi dan Pengaruhnya bagi Masyarakat. bersama-arief.blogspot.co.id.
diakses pada 21 Maret 2016 pukul 19.00
Green. 2012. Makalah
Tentang Peran Televisi Dalam Pendidikan. greenkonsep.wordpress.com.
diakses pada 20 Maret 2016 pukul 21.00
Lubis, syarifah. 2010. Pengaruh Berita di Televisi Terhadap Perilaku Anak dan Remaja.
syarifahlubis.wordpress.com
Nisa, khairunnisa. 2013. Televisi Dalam Kehidupan Manusia. nisabumkhairun.blogspot.co.id.
diakses pada 20 Maret 2016 pukul 21.00
Noname. 2015. Pengertian
Televisi Fungsi Sebagai Media Komunikasi Massa dan Pengaruh Siaran Televisi.
www.landasanteori.com.
Diakses pada 20 Maret 2016